Oleh: Eddy Murtoyo
Di ruang konseling belum lama ini, seorang klien muda datang kepada saya dengan keluhan yang cukup menggelitik. Sebut saja namanya Rio (nama disamarkan). Rio adalah pemuda yang cerdas, ia baru saja menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3,5 tahun dengan prestasi yang gemilang. Namun, alih-alih merasa meluap-luap oleh semangat untuk langsung mendobrak dunia kerja atau lanjut S2, Rio justru merasa “hambar”. “Pak, saya seperti kehilangan bahan bakar. Dulu saya menggebu-gebu sekali kalau punya impian. Sekarang kok rasanya biasa saja ya? Apa saya mengalami penurunan motivasi?” keluhnya dengan raut wajah cemas.
Keluhan Rio ini sebenarnya adalah keluhan sejuta umat. Banyak dari kita yang merasa ada yang salah dengan diri kita ketika api yang berkobar-kobar di dalam dada tiba-tiba meredup menjadi ketenangan yang datar. Kita langsung menuduh diri kita malas, kehilangan arah, atau mengalami kemunduran. Namun, benarkah demikian?
Sebagai konselor, saya justru melihat hal yang sebaliknya pada diri Rio. Setelah kami urai bersama, di masa SMP dulu, Rio ternyata sempat mengalami trauma bullying yang cukup mendalam. Tanpa ia sadari selama bertahun-tahun ini, energi menggebu-gebu dan ambisinya yang meledak-ledak itu bersumber dari satu hal: kemarahan dan keinginan untuk membuktikan diri bahwa ia tidak selemah yang para perundung itu kira.
Dalam dunia keperawatan jiwa dan kesehatan mental, ini disebut anger-driven motivation, bergerak dengan bahan bakar dendam atau luka. Bahan bakar ini memang luar biasa dahsyat kekuatannya, tapi sifatnya sangat merusak emosi dan menguras energi psikis kita karena tubuh kita dipaksa terus berada dalam mode siaga tempur (fight or flight). Lalu, mengapa sekarang Rio merasa “biasa saja”? Jawabannya sederhana: karena lukanya sudah mulai sembuh.
Ketika kedamaian batin mulai tumbuh, otomatis suplai kemarahan yang selama ini menjadi bahan bakar utama menjadi terhenti. Habisnya bahan bakar beracun ini sering kali memicu fase “hambar” atau datar. Jiwa dan tubuh kita akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat setelah sekian lama berjuang keras di medan perang batin. Konsep pengalihan energi trauma menjadi prestasi ini sejalan dengan teori mekanisme pertahanan diri (Defense Mechanism) yang digagas oleh Anna Freud, di mana ego manusia melakukan sublimasi untuk mengubah dorongan negatif menjadi karya produktif.
Jadi, bagi Anda yang mungkin saat ini sedang merasakan hal yang sama dengan Rio, merasa tidak seambisius dulu, merasa lebih menyukai ketenangan daripada kompetisi yang meledak-ledak, jangan buru-buru menghakimi diri sendiri. Anda tidak sedang kehilangan semangat. Anda sedang “Naik Level Kedewasaan”. Anda sedang bertransisi dari seseorang yang bergerak karena didorong oleh trauma masa lalu, menjadi manusia matang yang bergerak karena kesadaran, nilai hidup, dan pilihan yang stabil. Ketika tubuh keluar dari mode siaga (fight or flight), sistem saraf parasimpatis mulai mengambil alih untuk proses penyembuhan, yang menurut teori Polivagal (Dr. Stephen Porges) sering kali memicu fase tenang yang mendalam. Semangat Anda kini tidak lagi berbentuk api yang membakar diri sendiri, melainkan aliran air yang tenang namun konsisten menghidupi. Mari rayakan fase tenang ini sebagai sebuah kemenangan, bukan sebuah kemunduran.
Menyembuhkan luka masa lalu dan bertransisi ke level kedewasaan yang baru membutuhkan ruang aman yang suportif. Jika Anda merasakan gejala yang sama seperti Rio dan ingin mengurai medan perang batin Anda menjadi kedamaian, silakan hubungi layanan konseling kami untuk menjadwalkan sesi pertemuan melalui nomor 0812-2043-0434.
Referensi Rujukan:
- Freud, A. (1936). The Ego and the Mechanisms of Defence.
- Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory: Neurophysiological Foundations of Emotions, Attachment, Communication, and Self-regulation.



