Oleh: Eddy Murtoyo
Menangis di Alun-Alun Selatan: Saat Jiwa Lelah Berpura-Pura Bahagia
Bayangkan sebuah kondisi di mana Anda berada di tengah riuhnya Alun-Alun Selatan Keraton Yogyakarta. Lampu-lampu odong-odong berkerlap-kerlip, tawa orang-orang renyah terdengar, dan niat awal Anda datang ke sana adalah untuk mencari kesenangan. Namun, begitu kaki berpijak, dada Anda mendadak sesak. Air mata tumpah tak terbendung, dan rasa sedih yang teramat asing mencengkeram jiwa. Anda ingin tersenyum, tetapi jiwa Anda menolak.
Itulah yang dialami oleh R, seorang istri dan ibu dari satu anak laki-laki berusia 5 tahun. Secara medis, R bahkan telah mengantongi diagnosis bipolar karena perubahan emosinya yang dianggap tidak stabil dan ekstrem. Orang tuanya yang kebingungan akhirnya membawa R menemui saya di ruang praktik.
Jeruji Besi Bernama “Koping Pelarian”
Melalui pendekatan konseling keperawatan keluarga dan eksplorasi bawah sadar (hypnotherapy), perlahan tabir misteri itu mulai terurai setelah beberapa kali pertemuan. Jiwa R yang selama ini terkunci mulai berbicara jujur.
Bertahun-tahun lalu, R melewati badai besar: hubungan cinta selama 6 tahun kandas begitu saja. Hancur, kecewa, dan terluka, R memilih langkah yang terlihat sangat mulia secara lahiriah. Beliau memutuskan untuk menikah melalui jalur taaruf tanpa pacaran, murni berniat menjalankan perintah agama.
Namun, ada satu hal fatal yang dilupakan oleh R: Bawah sadarnya menggunakan pernikahan itu sebagai sekoci pelarian. R mengubur hidup-hidup rasa sakit patah hatinya. Selama bertahun-tahun pernikahan, dia memaksa dirinya menjadi istri yang baik, mencoba mencintai suaminya, dan menekan seluruh kegelisahan demi status keluarga harmonis. R mengira dia sudah melupakannya. Padahal, pikiran bawah sadar tidak pernah melupakan; ia hanya menyimpan emosi keruh itu di ruang terdalam hingga akhirnya meledak menjadi gejala yang menyerupai “bipolar”.
Menjemput Kesembuhan Lewat Subconscious Awareness
Di ruang terapi, kami tidak berfokus pada label penyakitnya, melainkan menuntun R untuk berjalan masuk ke dalam ruang bawah sadarnya. Saya membantunya menyadari dan mengakui kesalahan fatal masa lalu: bahwa dia telah membohongi dirinya sendiri dan memperalat pernikahan sebagai obat bius lukanya.
Kesadaran (awareness) inilah obatnya. Begitu pikiran bawah sadar R berhasil menerima kenyataan dan berhenti melarikan diri, kebenaran sejati muncul. R menyadari bahwa dia tidak bisa terus hidup dalam kepura-puraan yang merusak jiwanya. Dengan penuh kesadaran dan demi kebaikan bersama, R mengambil keputusan besar untuk berpisah dengan suaminya, sebuah langkah yang akhirnya dikabulkan.
Hasilnya? R sembuh sepenuhnya. Label “bipolar” itu menguap seiring dengan jujurnya R pada hatinya sendiri. Kini, dia bisa menjalani kehidupan normal dengan senyum yang benar-benar nyata, bukan lagi senyum topeng seperti dulu.
Pesan Edukasi di Akhir Artikel:
Pikiran bawah sadar kita adalah perekam yang jujur. Masalah keluarga yang pelik sering kali bukan karena kurangnya cinta di masa sekarang, melainkan adanya utang emosional masa lalu yang belum lunas dibayar. Melalui Konseling Keperawatan Keluarga dan Hipnoterapi, kita diajak untuk tidak sekadar mengobati gejala di permukaan, tetapi berani menyelami bawah sadar demi menjemput kedamaian hidup yang sejati. Teduh, Hening dan Beningkan Hati Anda. Karena Keputusan Terbaik Lahir dari Jiwa yang Tenang.
Silakan hubungi layanan konseling kami untuk menjadwalkan sesi pertemuan melalui nomor 0812-2043-0434.



